blogger templates

(Foto: dokumen pribadi)

Jumat, 07/06/2013 13:28 WIB

Ahmad Redi, Peraih Doktor Hukum Tercepat dalam Sejarah FHUI

Mega Putra Ratya - detikNews

Pria berkacamata yang akrab disapa Redi ini mampu menyelesaikan disertasinya selama tiga tahun. Dia juga berhasil meraih nilai IPK tertinggi yakni 3,80. UI mencatat prestasi itu sebagai rekor.

"Tiap hari saya selalu menyisihkan minimal 2 jam sehari untuk menulis disertasi," ungkap Redi saat berbincang dengan detikcom di Jakarta, Kamis (6/6/2013).

Redi sehari-hari bertugas sebagai Kepala Sub Bidang Sumber Daya Alam, Deputi Bidang Perundang-undangan di Kementerian Sekretariat Negara. Di tengah kesibukannya bekerja, Redi tak patah semangat dalam menyelesaikan disertasinya.

"Saya ngerjain disertasi setelah jam kerja sampai dengan larut malam," imbuh pria kelahiran Seribandung, Ogan Komering Ilir, Sumsel, 27 Februari 1985 ini.

Redi memang berniat untuk segera menyelesaikan disertasinya dengan waktu singkat. Disertasinya dia beri judul 'Divestasi Saham di Bidang Pertambangan Mineral dan Batubara Dalam Rangka Pelaksanaan Penanaman Modal Asing di Indonesia'.

"Bahkan saya pernah 3 hari 3 malam kagak tidur karena menulis disertasi," kenang suami Nila Anesia yang pernah menjadi mahasiswa berprestasi II FH Universitas Diponegoro 2005 ini.

Meski sibuk dengan kerjaan dan disertasinya, Redi selalu meluangkan waktu untuk anak dan istrinya setiap akhir pekan. Namun ayah dari Jeisia Niyosha Jurist Resia pun sesekali mengajak keluarga untuk 'berlibur' di perpusatakaan.

"Kalau keluarga tiap hari Minggu full seharian. Walau sering juga hari Sabtu dan Minggu anak istri saya ajak ke perpustakaan UI di Depok," tutur dia.

Redi menyelesaikan Program Sarjana di Fakultas Hukum (FH) Universitas Diponegoro, Semarang (2003-2007). Dia lalu melanjutkan pendidikannya di Program Magister FH Universitas Indonesia (2007-2009) dan terakhir di program Doktor Ilmu Hukum, FH Universitas Indonesia (2010-2013). Redi menempuh doktoralnya dengan waktu lebih cepat setahun dari rata-rata kebanyakan orang.

"Saya masih bercita-cita menjadi profesor muda bidang hukum," kata Redi berambisi.

Namun di balik kesuksesan pendidikannya di perguruan tinggi, Redi justru merasa titik awal kesuksesannya itu bermula saat dirinya mengenyam pendidikan di SMU Bina Insani, Bogor. Bahkan Redi menyebut SMU Bina Insani ibarat Kawah Chandradimuka bagi dirinya.

"Sekolah itu telah menempa saya hingga menjadi seperti ini. SMA BI telah menorehkan tinta emas dalam hidup dan kehidupan saya. Saya memulai merangkai mimpi dan cita-cita masa depan saya secara sistematis ketika saya sekolah di sana," ungkap Redi yang juga lulusan terbaik di SMU BI ini.

Redi masih memiliki mimpi. Dia ingin membentuk sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di bidang hukum. Tujuannya tidak lain selain memberi pemahaman hukum kepada masyarakat.

"Membumikan hukum di masyarakat bawah sehingga timbul kesadaran hukum," kata Redi yang hobi bermusik ini.

Pria yang masih kental logat Palembangnya ini mencontohkan salah satunya adalah mensosialisasikan UU Perkawinan atau UU KDRT. Ketika masyarakat paham, maka tindakan untuk melawan hukum akan berkurang.

"Kita punya UU KDRT, banyak masyarakat di daerah belum mengerti, agar mereka sadar. Selain itu soal perkawinan, daftarkan agar tidak kawin siri. Gunakan bahasa yang mudah, masuk ke mereka, agar bisa mudah dimengerti," tutupnya.


Gara-gara Fans, Rencana Timnas Belanda Mencicipi Hidangan di Kota Tua Batal. Apa yang Terjadi? Ikuti reportase lengkapnya di Reportase Sore pukul 16.30 WIB di TRANS TV

(nwk/nrl)

Sumber : www.detik.com