Tirta Nursari, Pejuang Pendidikan dari Warung Pasinaon
- Penulis :
-
Kurnia Sari Aziza
- Kamis, 17 Oktober 2013 | 09:36 WIB
Tirta Nursari saat ditemui
Kompas.com di puncak acara Hari Aksara Internasional 2013 di Kantor
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI di Jakarta, Jumat (12/10/2013)
lalu. | C10-12/Kurniasari Azizah
KOMPAS.com -
Pasinaon berasal dari kata
'sinau', yang artinya 'belajar' dalam bahasa Jawa. Dari kata itulah,
Tirta Nursari terinspirasi menamakan wadah belajar yang didirikannya
dengan Warung Pasinaon. Terletak di di desa Bergaslor, Semarang, Jawa
Tengah, di tempat itulah Tirta Nursari memulai perjuangannya mendidik
masyarakat tanpa memungut bayaran sepeser pun.
"Jadi, pintar itu enggak harus mahal, kok," kata Tirta Nursari.
Ia
mengaku tergerak untuk menggagas dan mendirikan sebuah ruang komunitas
nonprofit lantaran sebagian masyarakat di desanya menganggap bahwa
pendidikan adalah sesuatu yang mahal. Tak heran, muncul anggapan bahwa
tidak setiap orang berhak mendapatkan pendidikan. Ketika anak-anak di
desa itu berpikir kondisi ekonomi keluarga mereka tak lagi mampu
membiayai pendidikan, mereka tidak tahu siapa yang akan bertanggung
jawab membiayai sekolahnya.
Beruntung, Tirta mengaku, dirinya
punya banyak teman dan saudara yang mau diajak bersama-sama,
bergandengan tangan memajukan kualitas pendidikan anak-anak desa yang
sebagian besar adalah anak-anak buruh garmen. Tepatnya pada 2007, ia
membentuk Warung Pasinaon. Tagline-nya tidak main-main; "Jadi pintar
enggak harus mahal"!.
"Karena semuanya gratis di tempat kami.
Mereka bisa datang sesuka hati, bisa saling berinteraksi satu sama
lain," kata Tirta, saat ditemu di Puncak Acara Hari Aksara
Internasional, di Kantor Kemendiknas, Jakarta, Jumat (12/10/2013) lalu.
Sebagai
masyarakat yang saat itu telah memiliki kemampuan membaca dan menulis,
Tirta merasa perlu berkontribusi melalui satu gerakan kecil, guna
melestarikan kemampuan baca dan tulis. Ia percaya, kemampuan baca dan
tulis memberi pengaruh sangat nyata dalam hidup seseorang.
Untuk
tujuan tersebut, Tirta memulainya dari anak-anak desa yang
sehari-harinya jarang mendapat perhatian orangtuanya lantaran jadwal
tidak menentu sebagai buruh pabrik. Tirta berinisiatif memberikan
pendampingan belajar melalui pembentukan Warung Pasinaon tersebut. Di
sana, anak-anak itu bisa menuangkan segala bentuk kreatifitas mereka,
seperti bernyanyi, menari, mendongeng, membuat wayang boneka, dan
keterampilan lainnya.
Dengan berkumpul, berinteraksi, dan
melakukan aksi kreatif, Tirta mengaku yakin, perlahan rasa kepercayaan
diri akan muncul di dalam diri anak-anak tersebut. Pernah suatu ketika,
tutur Tirta, anak-anak murid Warung Pasinaon mengisi acara menari di
tingkat kabupaten.
"Tiba-tiba saja ada insiden
tape-nya mati," kisah Tirta.
Saat itu, Tirta mengaku panik dan takut. Ia merasa, mental anak-anak akan jatuh dan mereka berhenti menari.
Namun, tak disangka, lanjut dia, ternyata ada seorang anak yang berinisiatif untuk mengambil mikrofon.
"Apa
yang dilakukannya? Anak itu menyanyikan lagu untuk tarian tersebut.
Anak itu menyanyi, dan teman-teman lainnya melanjutkan menari," kata
Tirta.
Melihat itu, Tirta mengaku sangat senang. Ia merasa,
kepercayaan diri dan keberaniannya sudah tertanam pada diri anak-anak
tersebut.
"Walaupun mereka hanya anak buruh pabrik, kuli pasir,
dan sebagainya, bukan berarti mereka tidak berhak mendapatkan pendidikan
layak," ujarnya.
Melatih kewirausahaan Seiring
berjalannya waktu, Warung Pasinaon tak lagi hanya digunakan sebagai
lokasi penampungan kreatifitas anak-anak. Lokasi "warung" yang merupakan
rumah pribadi Tirta itu juga digunakan sebagai tempat berwirausaha para
wanita dan ibu-ibu yang merasa kurang memiliki keterampilan.
Salah satu keterampilan wirausaha di tempat itu adalah mengolah kaleng dan barang bekas menjadi sebuah
polybag
atau kantong belanja ramah lingkungan. Suatu ketika, pembantu rumah
tangga (PRT) yang sehari-hari bekerja kepada Tirta mengundurkan diri
dari pekerjaannya. Ia merasa sudah saatnya untuk 'naik kelas' dengan
menjadi buruh di pabrik. Namun, saat itu itu, Tirta mengingatkan kepada
pembantunya itu untuk tidak meninggalkan rumahnya dan kemudian menjadi
buruh.
"Kalau kamu jadi buruh pabrik, kamu akan jadi pembantu terus dan enggak akan naik kelas," kata Tirta.
Akhirnya,
si pembantu mengurungkan niatnya keluar dari rumah Tirta. Kini, ia
malah berhasil membuat berbagai tas kain yang terbuat dari kain perca.
Hasil karyanya itu bahkan sudah diperjualbelikan di unit usaha
Universitas Diponegoro, Semarang.
Satu waktu, Tirta melanjutkan,
membaurnya anak-anak dan masyarakat yang sudah dewasa untuk berwirausaha
di Warung Pasinaon ini pernah membuatnya
kecele. Itu terjadi lantaran ada buku orang dewasa yang selayaknya tidak dibaca oleh anak-anak.
Apa
yang terjadi? Karena peristiwa itu, Tirta rela menggadaikan sertifikat
tanahnya untuk membuat sebuah ruangan di samping rumahnya. Ruangan itu
khusus digunakan untuk wirausaha remaja hingga dewasa. Sementara untuk
mereka yang masih anak-anak, Tirta tetap merelakan penggunaan ruangan di
rumahnya sebagai "warung" tersebut. Dengan pemisahan ruang itu, kini
Tirta merasa lebih mudah mengawasi dan mengontrol buku-buku untuk orang
dewasa agar jangan tidak jatuh ke tangan anak-anak itu lagi.
Laboratorium kehidupan
Tirta mengaku,
dirinya merasa perlu terus bersyukur atas anugerah yang diberikan oleh
Tuhan Yang Maha Esa. Sebab, di awal langkahnya membentuk Warung Pasinaon
pada 2007 silam, hanya 14 anak yang mau belajar di sana. Lokasinya pun
bukan di rumahnya, melainkan di sebuah mushala di desa Bergaslor.
Di
sana, anak-anak memiliki jadwal tetap, mulai dari belajar Bahasa
Inggris, dongeng Nabi, dan diakhiri dengan Shalat Dhuha berjamaah.
Namun, Warung Pasinaon di tempat ibadah itu hanya bertahan selama satu
bulan. Saat itu, tak sedikit warga yang memandang kalau mushala tak
boleh digunakan untuk kegiatan lainnya, selain beribadah.
Karena
belum memiliki rumah, Tirta pun memutar pikirannya, akan kemanakah
Warung Pasinaon ini selanjutnya. Namun, Tirta mengaku, hambatan tempat
tak boleh jadi penghalang
passion-nya untuk mengajarkan anak-anak.
Beruntung,
saat itu, masyarakat mulai memandang positif keberadaan Warung
Pasinaon. Tak sedikit dari mereka yang menyediakan ruang tamu, garasi,
maupun terasnya untuk dipergunakan melakukan kegiatan-kegiatan kreatif.
"Kalau dihitung-hitung sudah empat kali pindah, dan yang kelima, akhirnya bisa dilakukan di rumah saya," ujar dia.
Menjadi
seorang pejuang pendidikan, lanjut Tirta, bisa dilakukan oleh setiap
orang. Banyak orang saat ini memasrahkan buta aksara mereka pada para
tutor maupun para pelaku praktisi di lapangan. Padahal, tutorial itu
bisa diterapkan di rumah masing-masing.
"Tidak perlu menjadi
orangtua biologis untuk melakukan pendampingan pada anak-anak. Asalkan
kita merasa sebagai orang tua yang dapat memberikan perhatian dan
kepedulian kepada siapapun dengan cara apapun, maka persoalan bisa
diminimalisir," ucapnya.
Kini, walaupun telah memiliki Warung
Pasinaon, Tirta masih memiliki mimpi besar untuk memiliki sebuah sekolah
dengan laboratorium khusus, yang kelak ia namakan "laboratorium
kehidupan". Di sekolah itu, ia bercita-cita, tak ada lagi batasan umur
untuk mereka yang mau belajar.
Tirta juga berharap, kelak di
sekolah itu orang-orang bisa berwirausaha, selain bisa menulis, dan
membaca. Ia mengatakan, akan ada empat literasi yang diingingkannya
untuk menjadi kurikulum di sekolahnya itu, antara lain literasi budaya,
kewirausahaan, kesehatan, dan edukasi formal.
"Jadi, menurut
saya, taman bacaan dan perpustaakan itu tidak hanya berkutat pada buku,
menulis, dan membaca. Tetapi, bagaimana menulis dan membaca itu dapat
mempengaruhi seseorang, termasuk menyelesaikan PR kita menghadapi
kemiskinan dan keterbatasan," pungkas Tirta.
Editor : Latief