Pages

Senin, 30 September 2013

Kemanakah Guru (Eks) TIK/KKPI Berlabuh?

 Kemanakah Guru (Eks) TIK/KKPI Berlabuh?

bahwa tahun ajaran 2013/2014 pemerintah (Kemendikbud) punya ‘gawe besar’ yaitu menerapkan kurikulum baru yang bernama Kurikulum 2013 (K-2013). Setelah mengalami ‘gonjang-ganjing’, ditolak sebagian praktisi dan pengamat pendidikan serta DPR, akhirnya K-2013 diterapkan secara ‘kompromi’. Yaitu diterapkan secara bertahap dan terbatas. Mengingat ngototnya M Nuh pada awalnya, penerapan secara bertahap dan terbatas ini sulit menghindarkan kesan sebagai keputusan ‘kompromi’ atau keputusan menyelematkan muka.Implementasi penerapan K-2013 berdampak pada nasib beberapa guru mata pelajaran (mapel). Sebagaimana kita ketahui dalam struktur K-2013 terjadi penghapusan beberapa mapel, antara lain TIK di SMP, KKPI, IPA dan IPS di SMK. Serta pengurangan jumlah jam beberapa mapel antara lain Bahasa Inggris untuk SMA/SMK dari 4 jam per minggu menjadi 2 jam saja. Hingga saat ini belum ada solusi yang jelas dan kongkret bagi guru-guru yang terdampak dari implementasi K-2013. Walaupun sering Mendikbud mewacanakan bahwa implementasi K-2013 tidak akan merugikan guru, namun itu baru sebatas pernyataan-pernyataan di media.
Terlepas dari kontroversi dihapuskannya mapel TIK di jenjang SMP/SMA dan KKPI di jenjang SMK, berikut empat wacana yang mungkin akan diambil pemerintah untuk mengatur para guru eks TIK/KKPI ini.
Pertama, mengingat sebagian besar guru bersertifikat TIK/KKPI tidak berlatar belakang pendidikan komputer, maka eks guru TIK/KKPI akan dikembalikan sebagai guru yang sesuai dengan basic pendidikannya. Ini sejalan dengan isi PP 74 Tahun 2008 tentang guru bahwa Kualifikasi Akademik adalah ijazah jenjang pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh Guru sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal di tempat penugasan. Ini dipertegas lagi dibagian lagi PP tersebut bahwa Guru Dalam Jabatan yang telah memperoleh sertifikat pendidik tidak linier dengan kualifikasi akademiknya wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kualifikasi akademiknya untuk mengampu mata pelajaran yang serumpun/mata pelajaran sesuai dengan kualifikasi akademiknya; atau mengikuti pendidikan untuk memperoleh kualifikasi akademik S-1/D-IV atau S2 yang lain sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Dengan wacana ini guru sebenarnya akan merasa nyaman karena ‘posisi’ dirinya sudah klop dengan PP 74 tersebut, walaupun harus menempuh sertifikasi ulang, yang dapat ditempuh melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG), Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) atau Kependidikan Kewenangan Tambabahan (KKT). Kelemahan dari wacana ini adalah apabila sudah menempuh sertifikasi ulang dengan mapel baru, guru tersebut harus ‘bersaing’ dengan guru lama yang se-mapel dalam rangka pemenuhan 24 jam mengajar per minggu.
Kedua, guru eks TIK/KKPI akan dialihkan sebagai guru mapel lain. Kemungkinan adalah Prakarya di SMP atau Prakarya dan Kewirausahaan di SMA/SMK. Wacana ini mempunyai kelebihan, yaitu mapel tersebut belum mempunyai ‘guru definitif’ mengingat ini adalah mapel baru di struktur K-2013, dengan jumlah jam yang sama dengan jam TIK/KKPI di Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Ini tidak mengubah komposisi jam dan guru, sehingga eks guru TIK/KKPI tidak akan ada pesaing dalam rangka pemenuhan 24 jam mengajar. Kendala dari wacana ini adalah, karena latar belakang pendidikannya tidak linier dengan mapel Prakarya, maka kembali terbentur dengan aturan PP 74 tahun 2008, sehingga jika konsisten guru TIK/KKPI harus menempuh sertifikasi Prakarya, dan bersekolah lagi mengambil jurusan Prakarya. Kalau tidak, filosofi Prakarya dan TIK jauh berbeda, sehingga sulit bisa profesional.
Ketiga, khusus eks guru TIK/KKPI yang berlatar belakang sesuai yaitu komputer, akan dimutasi ke SMK jurusan Teknik Informatika (TI) /Teknik Komputer Jaringan (TKJ). Kelebihannya wacana ini adalah guru tidak perlu menempuh sertifikasi ulang, dan juga tidak perlu bersekolah lagi. Bidang tugas dan latar belakang pendidikan sudah klop dengan PP 74 Tahun 2008. Cuma kelemahannya adalah jumlah SMK TI/TKJ sangat sedikit dibanding jumlah eks guru TIK/KKPI, sehingga kemungkinan tidak semua eks guru TIK/KKPI bakal tertampung di SMK.
Keempat, pemerintah membentuk wadah Pusat Teknologi Pendidikan di sekolah. Lembaga ini beranggotakan eks guru TIK/KKPI yang bertugas membantu guru dalam menyiapkan pembelajaran berbasis TI. Wacana ini pernah dilontarkan Dr. Haris Iskandar, direktur pembinaan SMA beberapa waktu lalu. Wacana ini sangat logis, mengingat dalam K-2013 sangat kental sebagai pembelajaran berbasis TI, sedangkan bukan rahasia lagi masih banyak guru yang belum mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran berbasis TI. Masih ingatkah kegaduhan guru-guru ketika akan menempuh Uji Kompetensi Online tahun 2012? Dalam struktur K-2013, ada satu peran yang belum terdistribusi, yaitu peran ‘mengupgrade’ guru dalam merancang dan melaksanakan pembalajaran berbasis TI. Nah, agaknya peran itu pas jika diisi oleh eks guru TIK. Dengan demikian semua guru yang selama ini berperan dalam KTSP, kembali mempunyai andil dalam menjalankan K-2013. Namun demikian, wacana ini juga bukan kelemahan. Hingga saat ini belum ada payung hukum tentang pembentukan Pusat Teknologi Pendidikan ini, bagaimana alih tugas guru mapel menjadi anggota lembaga ini, serta bagaimana status Tunjangan Profes i Pendidik (TPP) bagi guru TIK/KKPI yang sudah sertifikasi, yang selama ini sudah dinikmati para guru.
Nah, apapun kebijakan yang diambil oleh pemerintah sudah selayaknya pemerintah harus melindungi kepentingan eks guru TIK/KKPI, tidak merugikan mereka, dan memberlakukan eks guru TIK/KKPI secara layak. Semoga!!

Belajar Secara Praktis, Efektif, dan Efisien

ditulis oleh : Teguh Firman Saputra/ 8.6
Tanggal 30 September 2013



               Banyak Orang beranggapan bahwa yang dimaksud belajar adalah mencari ilmu.Ada lagi yang mengatakan bahwa belajar adalah menyerap pengetahuan, ini berarti bahwa orang harus mengumpulkan fakta sebanyak-banyaknya. Berdasarkan Konsep ini masih perlu dipertanyakan, apakah dengan belajar orang akan tumbuh dan berkembang?

     Belajar merupakan suatu proses, bukan suatu hasil.Dengan Demikian, belajar berlangsung secara aktif dan integratif dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai tujuan.Belajar merupakan kebutuhan setiap manusia. Apabila manusia itu butuh, ia akan melakukan kegiatan belajar. Demikian pula denganmu karena kamu butuh sesuatu maka kamu belajar.

         Belajar harus terarah untuk mencapai tujuan.Untuk mencapai tujuan itu, kamu harus menentukan program belajar.Dengan program belajar yang telah kamu tentukan, kamu akan memiliki berbagai pilihan atau alternatif tindakan atau cara untuk mencapai tujuan.Setelah itu baru kamu melakukan kegiatan/aktifitas yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan.Dengan demikian, belaajr akan lebih efektif dan efesien sesuai dengan bakat,potensi,dan kemampuan yang ada pada individu masing-masing.

Kamu bisa mencapai tujuan dalam belajar dengan :
a. Belajar dengan giat.
b. Disiplin dan bertanggung jawab, dan
c. Pantang Menyerah.



Berbagi Kisah Titik Balik Kehidupan dalam Bentuk Tulisan

Berbagi Kisah Titik Balik Kehidupan dalam Bentuk Tulisan

  • Minggu, 29 September 2013 | 23:52 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Butuh keberanian dan ketulusan untuk berbagi kisah titik balik yang acap kali mengingatkan kembali perjalanan getir dalam hidup. Namun, cerita-cerita titik balik itulah yang sering menggugah semangat banyak orang untuk tegar.

Bekerja sama dengan Manulife, situs blog Kompasiana.com berhasil mengajak anggotanya menuliskan kisah-kisah titik balik. Tak kurang Ada 117 tulisan terkumpul di Topik Pilihan Kompasiana bertemakan Titik Balik saat ini.

Pepih Nugraha selaku Managing Editor Kompasiana memuji kisah inspirasi yang luar biasa telah diceritakan oleh para bloger Kompasiana itu. Tujuan penulisan kisah-kisah tersebut adalah mengajak komunitas berbagi titik balik kehidupannya yang bisa menginspirasi banyak orang.

Tak hanya penulisan secara online, Kompasiana juga menggelar kegiatan Kompasiana Nangkring bersama Manulife, Sabtu (28/9/2013), di Kafe Pisa Mahakam, Jakarta. Berbagi kisah titik balik bersama menjadi tema acara ini yang dihadiri oleh puluhan bloger Kompasiana atau biasa disebut kompasianer. Kegiatan Kompasiana Nangkring ini merupakan ajang kopi darat teman-teman bloger dan kegiatan rutin Kompasiana setiap bulan.

"Kami berharap dengan acara ini, banyak orang berbagi kisah titik balik positif sehingga pembaca dapat tergerak merubah kehidupan menjadi lebih baik lagi," kata sambutan Felicia Gunawan, Vice President Corporate Communication & PR Manulife.

Di acara tersebut, Kompasianer bernama Aulia Gurdi menceritakan tentang kisah titik baliknya merawat anaknya yang menderita autisme. Selain itu, ada pula Kompasianer Lovema Syafei yang menceritakan tentang titik baliknya ketika keluar dari kecanduan narkoba. Sontak peserta hening mendengarkan kisahnya yang menginspirasi.

Tak hanya berbagi kisah, para peserta juga diberi ilmu dalam segi penulisan.

"Menulis itu bukan hal yang mudah. Terutama memilah angle yang tepat dalam menulis," kata Abdul Khalik selaku Co Managing Editor Jakarta Globe. Ia menyoroti bagaimana penulis memilih angle yang tepat agar menjadi sebuah tulisan yang menarik.


Selain melihat angle yang menarik, mendramatIsasi sebuah tulisan itu juga penting. "Menulis itu bisa harus memilah bagaimana yang paling dramatis yang harus diruncingkan," kata Okky Madasari, novelis peraih Khatulistiwa Literary Award 2012.

Sebagai kelanjutan dari acara ini, Kompasiana bersama Manulife mengadakan lomba berbagi kisah titik balik di FB Apps Manulife yang berhadiah total Rp 50 juta. Bagikan kisah titik balik Anda di FB Apps Manulife di sini. (MEL)

Minggu, 29 September 2013

Tolak UN, KOalisi Tinggalkan Konvensi

Tolak UN, Koalisi Tinggalkan Konvensi

Tolak UN, Koalisi Tinggalkan Konvensi
Ilustrasi Ujian Nasional SD. ANTARA/Dhoni Setiawan

Berita Terkait

TEMPO.CO , Jakarta:Sejumlah guru dan pegiat pendidikan yang tergabung dalam Koalisi Reformasi Pendidikan mengambil langkah ekstrim saat pembukaan Konvensi Ujian Nasional yang digelar Kementerian Pendidikan Nasional. Usai penyampaian paparan dari mantan wakil presiden RI, Jusuf Kalla, juru bicara koalisi, Retno Listyarti mengambil mikrofon dan membuat pengumuman. "Kami tak akan ikut konvensi ini, karena sesungguhnya pertemuan ini hanyalah formalitas," kata Retno di kompleks kementerian pendidikan dan kebudayaan, Kamis, 26 September 2013.

Pernyataan Retno spontan mendapat reaksi beragam dari 400-an peserta konvensi yang hadir. Ada yang diam, senyum simpul, dan ada pula yang menyoraki Retno. Namun, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indepen (FSGI) itu tak mundur. "Konvensi ini sebenarnya sudah ada hasilnya yaitu tetap melanjutkan UN. Kementerian pendidikan jelas-jelas telah mengabaikan fakta bahwa UN gagal dan terbukti mengabaikan hak anak," kata Retno lagi.

Menurut Retno, pelaksanaan Ujian Nasional sangat dipaksakan oleh pemerintah. UN juga dinilai gagal mewujudkan kesetaraan kualitas pendidikan seperti yang disampaikan. Ujian Nasional justru dinilai menjadi ajang pembodohan bagi siswa.

Koalisi kata Retno menilai, penilaian akhir terhadap kelulusan siswa seharusnya ditetapkan oleh sekolah dan bukan melalui standar angka-angka yang ditetapkan pemerintah.

Sebelumnya koalisi berharap, konvensi menjadi ajang konsensus bagi guru, dinas pendidikan, akademisi, dan pemerhati untuk merumuskan apakah UN bisa dilanjutkan atau tidak. "Kenyataannya, konvensi hanya untuk menggiring peserta menyetujui pelaksanaan UN."

IRA GUSLINA SUFA

Aktivis Pro UN Diminta Menulis di Media

Aktivis Pro UN Diminta Menulis di Media

Aktivis Pro UN Diminta Menulis di Media
Ilustrasi Ujian Nasional SD. ANTARA/Dhoni Setiawan
TEMPO.CO , Jakarta:Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Kebudayaan Musliar Kasim mengimbau kepada semua pegiat dan aktivis pendidikan untuk mereview dan menulis mengenai manfaat ujian nasional di beberapa surat kabar nasional Menurutnya, ini bertujuan untuk memberikan keseimbangan informasi yang diberitakan media cetak mengenai pelaksanaan ujian nasional.

"Ini biar netral saja, soalnya kalau dari kementerian yang nulis nanti disangka ada kepentingan," ujar Musliar saat penutupan Konvensi Ujian Nasional yang diselenggarakan di Kantor Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Jumat, 27 September 2013. "Lebih baik kan pengamat atau pegiat yang sekiranya tidak disangka ada kepentingan tertentu lah."

Musliar menilai pihak yang kontra terhadap UN sangat sedikit ketimbang yang pro. "Tapi suara yang tidak setuju akan UN malah lebih terdengar," ujarnya. "Ini kan akibat terus difollow up oleh media."

Dalam kesempatannya kali itu, dia berharap masyarakat dapat memperoleh informasi yang seimbang. Khususnya, informasi akan manfaat ujian nasional.

Aktivis Akan Bagikan Buku Hitam UN di Konvensi Besok

Aktivis Akan Bagikan Buku Hitam UN di Konvensi Besok

Konvensi ujian nasional (UN) yang digelar Kemendikbud, pada Kamis (26/9) besok, tak hanya mengundang kelompok pro UN. Namun, aktivis yang kontra UN pun diundang walaupun jumlahnya tak terlalu banyak. Di acara tersebut, aktivis yang menolak UN berencana akan membagikan ‘Buku Hitam UN’ ke peserta konvensi.
Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti mengatakan, buku tersebut diberikan pada peserta konvensi agar semuanya melek. Bahwa, UN menghancurkan masa depan anak bangsa.
Retno mengatakan, selain memberikan buku pada konvensi tersebut, ia akan memberikan rekomendasi  hasil konvensi rakyat, salah satunya meminta pemerintah mereposisi UN kembali pada fungsinya.
Menurut Sekjen Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), saat konvensi nanti, FGII tetap konsisten menolak UN untuk penentu kelulusan. Namun, kalau UN dilaksanakan hanya untuk pemetaan kualitas pendidikan nasional FGII tak keberatan.
Iwan mengatakan, di konvensi FGII pun akan mendesak pengadilan negeri Jakarta untuk segera mengeksekusi putusan tentang UN. Selain itu, FGII akan melakukan judicial review PP 32/2013 ke MA yang mendasari terlaksananya UN.
sumber : Republika

"Hasil Konvensi UN Sudah Terbaca Jauh-jauh Hari"

  • Penulis :
  • Ihsanuddin
  • Sabtu, 28 September 2013 | 07:46 WIB
Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti. | Kompas.com/ Sabrina Asril
JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil Konvensi Ujian Nasional (UN) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mendiskusikan konsep UN dengan para pegiat pendidikan dinilai sejak awal sudah terbaca. Tak ada perubahan yang dihasilkan dari hajatan tersebut.

"Sudah bisa diperkirakan jauh-jauh hari, hanya berupa hal-hal teknis seperti bagaimana penilaian UN dilakukan," ujar Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia Retno Listyarti saat dihubungi Kompas.com di Jakarta, Jumat (27/9/2013). Konvensi tersebut, menurut dia, belum menyinggung masalah substansial.

"Masalah substansial itu misalnya, tidak dibahas di sana kalau penyelenggaraan UN melanggar hukum," lanjut Retno. Pada 2009, kata dia, Mahkamah Agung sudah mengeluarkan perintah jelas dan tegas dalam amar putusan tentang penyelenggaraan UN.

Amar itu, sebut Retno, memerintahkan Pemerintah untuk meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, serta akses informasi yang lengkap di seluruh daerah di Indonesia, sebelum mengeluarkan kebijakan pelaksanaan UN lebih lanjut. Karena mengacu pada putusan MA itulah, Retno memutuskan walk out pada hari pertama konvensi.

Konvensi UN digelar Kemendikbud pada 26 dan 27 September 2013, dengan menghadirkan para pegiat pendidikan. Tujuan konvensi adalah menentukan format UN yang terbaik untuk pelaksanaan UN pada tahun ajaran ini.

Sebelumnya, Kemendikbud telah menggelar pra-konvensi di tiga kota, yakni Denpasar, Medan, dan Makassar. Ketiga kota itu dipilih untuk mewakili Indonesia bagian tengah, Indonesia bagian barat, serta Indonesia bagian timur.

Pra-konvensi dari masing-masing kota itu membawa usulan manajemen UN, terutama tentang persentase nilai kelulusan. Diusulkan juga masalah pencetakan serta distribusi soal UN, apakah akan dipusatkan atau dilaksanakan di masing-masing provinsi.

Penyelenggaraan Konvensi UN selama dua hari itu membuahkan keputusan bahwa UN tetap akan diselenggarakan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan. Berbagai teknis pelaksanaan UN menjadi hasil konvensi pula.

Editor : Palupi Annisa Auliani

Jasa Pembuatan Jadwal Pelajaran

Jasa Pembuatan Jadwal Pelajaran


kop depan
“KAMI MEMILIKI PENGALAMAN LEBIH DARI 10 TAHUN DALAM MEMBUAT JADWAL PELAJARAN, INSYA ALLAH KAMI MEMAHAMI PERMASALAHANNYA”
Salah satu tugas berat Guru di sekolah adalah menyusun Jadwal Pelajaran. Tugas ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang harus dilakukan untuk setiap semesternya. Bahkan dalam kondisi tertentu perubahan jadwla bisa dilakukan beberapa kali dalam satu semester. Pembuatan jadwal pelajaran memerlukan ketelitian, ketelatenan dan banyak menyita waktu.
Jumlah kelas pararel yang cukup banyak terasa semakin berat dalam penyusunan jadwal pelajaran. Ditambah lagi dengan keinginan guru untuk meminta hari tertentu, waktu jam belajar, perlakuan khusus untuk beberapa pelajaran (misalnya Olah Raga, TIK) dsb tentunya dapat menambah rumit dan menyita banyak pikiran.
Berangkat dari permasalahan tersebut, kami menawarkan jasa untuk membuatkan jadwal pelajaran kepada Bapak/Ibu Guru. Jadwal yang kami buat telah dieksport ke dalam format *.pdf, Excel (*.XLS/*.XLSX) dan image (*.JPG) yang menghasilkan Tabel Jadwal keseluruhan, Jadwal perguru, jadwal perkelas, rekapitulasi dan lain-lain.
Bagi yang berminat silahkan klik CARA PEMESANAN
CONTOH JADWAL DALAM FILE *.pdf  BISA DOWNLOAD:
Sedangkan dalam format EXCEL BISA DI DOWNLOAD: Cetak dalam Excel

Dalam bentuk Image berikut kami sajikan contoh Jadwal dengan model MOVING CLASS. Dalam penyusunan jadwal berikut mempertimbangkan antara lain;
  1. Guru yang rumahnya dekat dengan sekolah masuk 5 hari, diluar MGMP.
  2. Guru yang rumahnya jauh dengan sekolah masuk 4 hari, diluar MGMP.
  3. Pelajaran Tata Busana dan Tata Boga gabungan dari 2 kelas (setengah ikut TBs dan setengahnya ikut TBg) 
  4. Setiap Mata Pelajaran memiliki Ruang Khusus (Ruang Matematika, Ruang TIK dst.)
  5. Beberapa Guru tertentu masuk dalam hari yang bersamaan.
  6. Dan sebagainya
Berikut Contoh tampilan hasil Cetak dalam bentuk IMAGE. 
JADWAL007
Jadwal Pelajaran Moving  Class untuk Seluruh Guru
JADWAL001
Jadwal Pelajaran Moving  Class Setiap Kelas
JADWAL003
Jadwal Pelajaran Moving  Class untuk setiap Guru
JADWAL005
Jadwal Pelajaran sesuai penggunaan Ruang
JADWAL008
Jadwal Pelajaran Moving  Class untuk menunjukkan pengguna ruang
JADWAL010
Rekapitulasi jumlah Jam masing-masing Pengajar
JADWAL006
Jadwal Pelajaran berdasarkan mata pelajaran
JADWAL009
Rekapitulasi jumlah jam pelajaran masing-masing kelas
Bagi yang berminat silahkan klik: CARA PEMESANAN

Sabtu, 28 September 2013

DOWNLOAD BAHAN PEMBELAJARAN - SISWA/I KELAS 7 SMP ( TIK )

 Bahan Pembelajaran / Presentasi Modul TIK Kelas 7
disusun oleh : Teguh/Kelas 8.6

Silakan, Klik Link dibawah INI :
Bahan Ajar Guru - Dampak Negatif Penggunaan TIK



SOAL ULANGAN IPA KELAS 7/ Word
disusun oleh : Teguh/Kelas 8.6

Silakan, Klik Link dibawah INI :

Menajuk Kurikulum 3.1

Menajuk Kurikulum 3.1

k31
Pada 1993 Microsoft menggagas Encarta, sebuah ensiklopedia digital. Awalnya Microsoft mengajak ensiklopedia konvensional yang sudah seabad terkenal, Britannica, bergabung. Namun, Britannica menyadari bahwa bergabung dengan Encarta adalah tindakan bunuh diri. Ensiklopedia ternama ini menolak ajakan itu.
Setelah ada Encarta dengan keindahan multimedianya, tak memakan rak buku, dan harganya terjangkau, masyarakat akhirnya tak tertarik lagi pada ensiklopedia konvensional. Walau dengan tampilan mewah berlapis bahan kulit asli, Britannica tewas. Memperbarui edisi Encarta jauh lebih praktis daripada edisi ensiklopedia berbasis kertas. Encarta telah membunuh Britannica.
Perlu dicatat, Encarta membunuh Britannica hanya bersenjata keringkasan dan kecantikan tampilan. Kenyataannya, ini hanya memindahkan ensiklopedia kertas menjadi informasi digital dalam cakram padat. Paradigma Encarta sama dan sebangun dengan Britannica atau ensiklopedia konvensional lain. Walau penjelasan dalam Encarta indah melibatkan multimedia, gagasannya tetap: informasi tetap searah dari satu otoritas sebagai sumber dan pengguna pasif menyerapnya.
Pada 2001 muncul gagasan revolusioner membangun sebuah ensiklopedia daring berparadigma baru: Wikipedia. Penulis ensiklopedia daring ini diharapkan orang awam yang sukarela, tidak dibayar. Jika ensiklopedia sebelumnya harus dibeli, Wikipedia dirancang sebagai layanan gratis.
Berbeda dengan paradigma sebelumnya, di Wikipedia tiap pengguna diharapkan aktif berkontribusi menulis atau membantu mengoreksi berdasar kepakarannya. Para pengguna diajak berkolaborasi membangun ensiklopedia bagi semua orang. Tentu tak langsung sempurna, tetapi butuh keterlibatan warga internet menyempurnakannya. Namun, ketaksempurnaan inilah kunci kesempurnaannya. Fokus pada hasil bergeser ke proses.
Sikap pengguna ensiklopedia konvensional (langsung percaya dengan informasi yang dibacanya) sekarang diharapkan berganti dengan sikap kritis menyelidiki serta mengkaji rangkaian rujukan di Wikipedia. Pengguna layanan berbasis kolaborasi warga seperti Wikipedia ini diharapkan masyarakat yang belajar berkelanjutan. Paradigma ensiklopedia konvensional yang cermat tuntas hampir tanpa salah, tapi informasinya singkat telah ditinggal. Penggantinya sebuah ensiklopedia yang hidup, berkembang berkelanjutan dalam waktu nyata dengan informasi mendalam dan terkait luas.
Walau banyak yang ragu saat awal pembentukannya, sejarah merekam: Wikipedia menghabisi Encarta secara resmi pada 2009. Pesan moral gejala ensiklopedia ini: gagasan besar masyarakat era sekarang adalah berbagi, dicirikan sebagai pengguna sekaligus berkontribusi.

Mirip ensiklopedia
Pergeseran paradigma yang melatari perkembangan kurikulum pendidikan mirip dengan paradigma ensiklopedia tadi. Dalam kurikulum konvensional yang diistilahkan sebagai Kurikulum 1.0, guru menyampaikan pengetahuan yang disiapkan pemerintah pusat sama secara nasional. Semua sekolah dan murid secara pasif menyerap. Buku ajar dibuatkan pusat. Bahkan, kadang kala, rencana pembelajaran juga dibuatkan pemerintah pusat. Ini analog dengan paradigma ensiklopedia konvensional.
Dalam Kurikulum 1.0, murid, guru, bahkan sekolah tak terlibat mengembangkan kurikulum. Pengguna murni melaksanakan pengajaran. Namun, Kurikulum 2.0 menawarkan paradigma baru: sekolah membuat kurikulum berdasar standar yang dibuat sebuah badan independen atau profesi. Sekolah mandiri merancang kurikulum. Murid bersama guru menyusun program belajar bersama. Selanjutnya adalah paradigma Kurikulum 3.0. Di sini murid mandiri menyusun program belajar dan kurikulumnya dibantu guru. Mau belajar apa dan kapan ditentukan sendiri oleh murid. Dalam paradigma ini, murid bertanggung jawab atas apa yang perlu dipelajari serta cara belajarnya.
Sistem di Kurikulum 3.0 belum cukup. Mungkin terjadi pemerintah menciptakan kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan murid. Dalam hal Indonesia, kebijakan seperti ujian nasional sebagai bagian penentu kelulusan adalah contoh pengganggu Kurikulum 3.0 karena dengan UN, murid dipaksa mempelajari kecakapan kedaluwarsa.
Koreksi terhadap paradigma Kurikulum 3.0 itu adalah terse- lenggaranya pemerintah berdaya yang rela membagikan kekuasaannya, seperti penentuan kelulusan siswa, mutlak ke sekolah. Setelah dikoreksi (meniru istilah dalam teknologi komputer: bugs fixed), Kurikulum 3.0 menjadi Kurikulum 3.1. Pemerintah dalam paradigma ini mirip administrator di Facebook atau Wiki- pedia. Misinya menjamin berfungsinya fasilitas serta insentif belajar agar setiap siswa dapat mengembangkan dirinya seopti- mum mungkin, tetapi tidak turut menentukan apa yang dipelajari murid dan bagaimana mempelajarinya. Murid berperan sebagai guru dan guru berperan sebagai murid. Seperti di Wikipedia, kita produsen sekaligus konsumen.
Fenomena produsen sekaligus konsumen yang diistilahkan prosumer ini sudah lama ditajuk Alfin Toffler. Istilah ini dirumuskan dalam The Third Wave (1980). Untuk pendidikan, padanan prosumer ini kita rumuskan saja sebagai gurid: insan yang berperan sebagai guru bagi insan lain sekaligus berperan sebagai murid.
Dengan analogi di atas, walau masih jauh dari sempurna, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sudah berparadigma Kurikulum 2.0. Menurut UU Sisdiknas, sekolah sudah mandiri bikin kurikulum berdasarkan standar nasional buatan BSNP. Namun, Kurikulum 2013 justru mundur ke paradigma Kurikulum 1.0 karena pemerintah mengambil peran sebagai pembuat kurikulum kembali. Kemdikbud di Senayan kembali merasa mahatahu menentukan pengetahuan dan kecakapan apa yang dibutuhkan setiap murid di seluruh penjuru Nusantara. Murid, guru, dan sekolah kembali jadi obyek semata.
Mustahil tepat menggambarkan masa depan, tetapi fenomena prosumer dan  gurid itu sudah merasuk di beberapa bagian kehidupan. Seperti Encarta yang tewas dan Wikipedia yang berkembang meluas, Kurikulum 1.0 yang otoriter akan diabaikan masyarakat belajar dan sebaliknya Kurikulum 2.0 ke atas akan alamiah berkembang dan makin dibutuhkan gurid. Kebijakan atau layanan apa pun di masa depan mutlak melibatkan masyarakat.
Iwan Pranoto  ;   Guru Besar ITB
KOMPAS, 18 September 2013

Kegiatan Belajar Mengajar ( K B M )

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
Sebelum kita dapat membahas isu-isu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) kita perlu membahas secara lebih dalam isu-isu dan prioritas untuk pendidikan yang bermutu dan tujuannya KBM dalam proses mengarah ke pendidikan yang bermutu.

Apakah tujuan KBM adalah untuk menyampaikan informasi tertentu (pengetahuan) atau mengajar salah satu "skill" (keterampilan) kepada pelajarnya? Atau ada tujuan yang lebih luas?

Kami masih ingat pada waktu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) baru muncul di Indonesia secara formal. Di lapangan banyak guru sedang bingung. Bingung karena ada beberapa hal termasuk banyak kompetensi yang disebut dalam kurikulum yang bukan kompetensi, atau sangat sulit diukur. Salah satu masalah besar adalah guru-guru bingung karena mereka tidak dapat percaya bahwa mereka akan punya cukup waktu untuk mengajar les masing-masing untuk menyampaikan dan "assess" (menilaikan) begitu banyak kompetensi.

Padahal ini bukan masalah karena kita tidak perlu mengajar kompetensi-kompetensi itu masing-masing. Di dalam satu kelas kita dapat mengajar beberapa kompetensi sekalian dan juga assess beberapa kompetensi sekalian.

Sebenarnya di setiap kelas kita wajib untuk mengajar sebanyak kompetensi mungkin dalam waktunya bila memakai KBK atau tidak.

Apa itu Pendidikan Yang Bermutu?

Sebetulnya ada banyak definisi untuk pendidikan yang bermutu tetapi kami merasa bahwa definisi ini dari UNICEF (di bawah) adalah cukup lengkap:
  • Pelajar yang sehat, mendapat makanan bergizi yang cukup dan siap berpartisipasi dalam proses belajar, yang didukung dalam proses pembelajaran oleh keluarga dan linkungannya.
  • Environmen yang sehat, aman, melindungi dan "gender-sensitive", dan menyediakan sumber-sumber pembelajaran dan fasilitas yang cukup.
  • Konten dalam kurikulum dan bahan pembelajaran yang relevan untuk belajar "basic skills", khusus "literacy, numeracy and skills for life", dan pengetahuan mengenai isu-isu seperti "gender, health (kesehatan), nutrisi, HIV/AIDS prevention and peace (kedamaian)".
  • Proses-proses di mana guru-guru yang terlatih menggunakan sistem pembelajaran "child centered" di kelas dan sekolah yang di-manage dengan baik dan di mana ada penilaian yang baik untuk melaksanakan pembelajaran dan menurunkan isu-isu perbedaan.
  • Outcomes yang termasuk pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap, dan berhubungan dengan tujuan-tujuan (goals) nasional untuk pendidikan dan partisipasi sosial yang positif.
Bagaimana kita dapat melaksanakan Pendidikan yang Bermutu di Indonesia?
Yang pertama kita harus sadar bahwa kesehatan adalah isu pendidikan. Itu sebabnya Pendidikan Network mempunyai bagian berita khusus "Pendidikan & Kemiskinan" karena isu-isu kemiskinan dan kesehatan adalah dua faktor yang sangat mempengaruhi mutu pendidikan (untuk semua) di negara kita.

"Environmen yang sehat" Puluhan ribu sekolah di negara kita adalah rusak atau ambruk. Kalau kita menuju pendidikan yang bermutu "untuk semua" ini harus sebagai prioritas utama terhadap keadilan di bidang pendidikan. Walapun sumber-sumber pembelajaran dan fasilitas adalah isu yang sangat penting semua siswa-siswi di Indonesia berhak untuk mengakses sekolah yang aman dan nyaman.

"Konten dalam kurikulum dan bahan pembelajaran yang relevan untuk belajar basic skills". Kurikulum adalah isu yang terus perlu ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan siswa-siswi untuk menghadapi masa depan dengan keberanian dan kreativitas, kalau negara kita berharap kemajuan.

Biasanya ada tiga kurikulum sebetulnya; kurikulum nasional, kurikulum daerah (mungkin konten lokal termasuk bahasa), dan kurikulum sekolah (mencerminkan keinginan dan kebutuhan lingkungan sekolah termasuk masyarakat dan industri). Kurikulum sekolah adalah isu yang sangat penting dan dapat di bentukkan dalam kegiatan ekstra-kurikular untuk menambah pembelajaran agama, sosial, kemandirian, keterampilan yang berhubungan dengan industri lokal (kejuruan), dll. Kurikulum sekolah dapat sangat membantu dengan isu-isu mutu SDM.

"Proses-proses di mana guru-guru yang terlatih menggunakan sistem pembelajaran child centered"
Apa maksudnya "child centered"? Child centered adalah sistem pembelajaran di mana fokus pembelajaran adalah dengan pelajar bukan guru. Guru sebagai fasilitator atau manajer proses pembelajaran. Misalnya di TK guru-guru sering mengajar anak-anak lewat kegiatan mainan. Di dalam kegiatan-kegiatan ini adalah pembelajaran misalnya pembelajaran isu sosial, hitung, bergambar, cerita dalam kata-kata sendiri, keterampilan kreativitas, dll.

Di tingkat SD sampai SMP sudah ada banyak contoh dan bukti penghasilan dari proses "Child Centered Learning" yang disebut Pengajaran Aktif, Kreatif, Efektif yang Menyenangkan (PAKEM) atau Pembelajaran Kontekstual di situs Basic Education (MBE).

Di tingkat SMU kita masih dapat menyaksikan banyak kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah menengah yang belum Student Centered. Mungkin karena masih banyak guru belum kenal dengan proses, atau seperti kami sudah mendengar di lapangan bahwa guru-guru masih ragu-ragu bahwa mereka dapat selesai menyampaikan kurikulum dalam waktunya kalau menggunakan proses PAKEM. Padahal lewat proses PAKEM siswa-siswi dapat belajar sangat cepat maupun enjoy (nikmat) pembelajaran sambil menambah pembelajaran "life skills" misalnya manajemen, kemandirian, penelitian, dll, sambil belajar topik utama#.

#Ingat di atas bahwa kami sebut "di setiap kelas kita wajib untuk mengajar sebanyak kompetensi mungkin dalam waktunya bila memakai KBK atau tidak"

Ini adalah salah satu isu yang sangat membedakan sekolah nasional dengan sekolah internasional. Beberapa sekolah nasional sudah melaksanakan proses pembelajaran kontekstual misalnya Madania di Parung, Bogor, Jawa Barat.

Di Perguruan Tinggi kita dapat menyaksikan kegiatan belajar mengajar di kebanyakan kelas yang paling pasif. Proses pembelajarannya biasanya sangat 'dosen centered' dengan mahasiswa/i dalam keadaan DM (duduk manis) dan jarang terkait dalam proses pembelajaran.

Apakah harus begini? Pasti Tidak!

Dosen-dosen, sama dengan guru-guru di sekolah, wajib untuk mengaktifkan mahasiswa/i dalam proses pembelajaran. Kita perlu menggunakan strategi-strategi, walapun kelasnya adalah besar, di mana mahasiswa/i adalah seaktif mungkin dalam proses pembelajaran.

Apakah anda yang dosen yang membaca ini pernah ikut program seminar yang ceramah atau pidato sepanjang hari? Apakah anda ingin tidur atau pulang? Sekarang kebanyakan presenter menggunakan laptop dan data projector. Apakah ada bedanya? Setelah dua atau tiga presentasi apa anda ingin tidur atau pulang juga? Sama saja kan?

Yang akan paling meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia adalah kalau kita di semua tingkat pendidikan menghidupkan/mengaktifkan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), bukan isu seperti teknologi.

Teknologi Pendidikan adalah alat bantu untuk di mana ada kesempatan untuk meningkatkan mutu KBM, tetapi teknologinya harus cocok dan tidak perlu terlalu canggih. Kalau kita sering menggunakan teknologi yang sama, bila paling canggih, pelajar kita juga akan cepat mulai bosen. Sering teknologi yang paling membantu tujuan KBM kita adalah yang paling sederhana.

Jaring Aspirasi, Taufik Kurniawan Blusukan ke Pelosok Desa Purbalingga

Jaring Aspirasi, Taufik Kurniawan Blusukan ke Pelosok Desa Purbalingga

Ahmad Toriq - detikNews
Taufik Kurniawan
Jakarta - Blusukan kian populer dilakukan oleh para pejabat. Salah satu yang melakukannya adalah Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan. Untuk menjaring aspirasi masyarakat desa, Taufik blusukan ke pelosok Purbalingga, Jawa Tengah.

"Beberapa kades mengundang saya untuk menghadiri penyampaian penjaringan aspirasi. Dialognya lepas, kaitan dengan aspirasi, urusan politik juga siap," kata Taufik saat berbincang, Sabtu (28/9/2013).

Ada beberapa desa di empat kecamatan di Purbalingga yang akan disambangi Taufik. Sekjen PAN ini akan melihat dan menggelar diskusi mengenai pembangunan desa.

"Saya memang aktif penjaringan aspirasi ke desa saat penyusunan UU Desa. Setiap pekan juga rutin berkunjung, kaitannya dengan pengawasan penggunaan APBN yang turun di desa yang kaitannya dengan infrastruktur desa, nasib perangkat desa. Jaring aspirasinya melibatkan ratusan kades dan perangkat desa," paparnya.

Salah satu desa yang dikunjungi adalah Desa Kemangkon, yang merupakan kampung asal Sumanto si 'kanibal'. Rencananya Taufik akan bermalam di desa tersebut.

"Saya kan juga dari pelosok desa di Purbalingga. Asli wong ndeso. Sering saya ke pelosok naik motor, naik perahu. Saya juga rencananya akan bermalam," tuturnya.



Ikuti berbagai peristiwa hangat yang terjadi hari ini di "Reportase Sore" pukul 16.30 WIB, hanya di Trans TV

(trq/rni)

Jumat, 27 September 2013

DOWNLOAD KALENDER PENDIDIKAN TAHUN PEL.2013/2014

Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2013/2014 


silahkan klik "download" di bawah

Format isian data guru

FORMAT ISIAN DATA GURU PDF Print E-mail
YTH. KEPALA SEKOLAH/OPERATOR
SMP NEGERI DAN SWASTA KEC. KEMBANGAN

SEGERA ISI FORMAT ISIAN DATA GURU 2013 (format terlampir) DAN DIKIRIMKAN KE EMAIL  dikdaskembangan@yahoo.com ATAU danker215@gmail.com

SEGERAAA.. DIKARNAKAN DATA AKAN DIVALIDASI. SILAHKAN DOWNLOAD FORMATNYA
TK.

sumber : www.sanggarkembangan.org/

Kompetensi Belajar

Kompetensi menurut McAshan, yang dikutip oleh Mulyasa (2003), dalam bukunya Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga dapat melakukan prilaku-prilaku kognitif, afektif dan psikomotor dengan sebaik-baiknya. Martinis Yamin (2003), menyebutnya sebagai kemampuan dasar yang dapat dilakukan oleh siswa pada tahap pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Sedangkan Finch dan Crunkilton, mengartikan kompetensi sebagai penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan, sikap dan apresiasi yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan. Dari beberapa pengertian kompetensi di atas, menunjukkan bahwa kompetensi mencakup pengetahuan, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang harus dimiliki siswa agar dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran yang sesuai dengan jenis pekerjaan tertentu. Atau dengan perkataan lain ada kesesuaian antara materi yang dipelajari dan tugas-tugas yang dikerjakan siswa di sekolah dengan kemampuan yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Bila demikian, maka pertanyaannya adalah, bagaimana cara yang efektif untuk mencapai kompetesnsi belajar tersebut? image Ada dua hal yang harus disikapi yaitu: perubahan terhadap strategi pembelajaran yang digunakan; dan penyediaan sarana belajar serta sumber-sumber belajar yang mendukung pecapaian kompetensi tersebut. Strategi pembelajaran berbasis kompetensi pada dasarnya adalah strategi pembelajaran yang berupaya mengaitkan setiap materi yang dipelajari dan tugas-tugas yang dikerjakan siswa di sekolah, dengan kehidupan sehari-hari atau bidang-bidang pekerjaan tertentu; sehingga siswa dapat merasakan makna setiap pembelajaran yang diterimanya, karena dapat dimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan. Strategi pembelajaran berbasis kompetensi (competency base strategy) menurut Gordon Dryden dan Jeannette Vos (2000), dalam bukunya The Learning Revolution mempunyai satu ciri utama yaitu pembelajaran yang bermakna, dimana siswa dapat merasakan manfaat dari materi pelajaran yang dipelajarinya di sekolah dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang senada juga dikemukakan oleh DePorter (2000), dalam bukunya Quantum Learning yang mengatakan bahwa suatu strategi pembelajaran harus mampu memberikan manfaat bagi siswa yang belajar. Untuk itu lebih lanjut ia mengatakan bahwa menciptakan ketertarikan terhadap suatu topik dengan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari, serta merayakan kebehasilan siswa adalah kunci dalam strategi pembelajaran yang bermakna, Conny Semiawan (1977), mengatakan untuk siswa sekolah dasar jangan pompakan fakta-fakta yang tidak saling berkait ke dalam benak mereka, tetapi seyogianya anak belajar konsep dengan proses yang bermakna. Sedangkan Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl (2002), dalam bukunya “Accelerated Learning” menyebutnya enam langkah cara belajar yang bermakna, yaitu: (1) memotivasi pikiran, (2) memperoleh informasi, (3) menyelidiki makna, (4) memicu memori, (5) memamerkan apa yang diketahui siswa, dan (6) mereflesikan bagaimana cara siswa belajar. Jadi jelas, bahwa pembelajaran harus bermakna bagi siswa dan upaya pencapaiannya dilakukan dengan mengaktifkan siswa dalam mengakses infomasi serta melakukan penyelidikan terhadap materi yang dipelajarinya. Upaya tersebut dilakukan agar siswa dapat memahami betapa pentingnya materi yang akan dipelajarinya bagi kehidupannya. Bila kita cermati sejenak pendapat Gordon dan Jeannette, DePorter, Conny Semiawan, Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, di atas; bahwa inti dari strategi pembelajaran berbasis kompetensi (competency based strategy) adalah, bagaimana menciptakan keterkaitan setiap aspek yang dipelajari siswa di sekolah dengan kenyataan-kenyataan yang ada dalam kehidupan sehari-hari; serta menciptakan kesenangan dalam belajar. Dengan demikian siswa dapat merasakan, bahwa setiap perbuatan belajar yang dilakukannya bukan suatu paksaan dan kesia-siaan; melainkan sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat bagi kehidupannya. Dengan demikian, “betapapun kecilnya materi yang dipelajari, selalu akan memberikan makna bagi siswa”. Dalam strategi pembelajaran berbasis kompetensi, sebagian besar metode pembelajaran yang digunakan adalah metode-metode pembelajaran yang melibatkan dominasi siswa dalam pelaksanaannya. Metode-metode tersebut antara laia: metode diskusi, latihan terbimbing, simulasi, studi kasus, Cooperative Learning, Active Learning, dan sebagainya. Dengan kata lain pemilihan metode diarahkan kepada metode yang dapat membangun pengetahuan siswa secara aktif. Sedangkan penggunaan media untuk mencapai kompetensi yang diharapkan merupakan keharusan. Untuk jenis media yang dibutuhkan akan meliputi: alat bantu instruksional (instructional aids) dan media instruksional (instructional media). Namun demikian penggunaannya perlu disesuaikan dengan tujuan atau kompetensi yang akan dicapai serta usia atau jenjang pendidikan ....

Senin, 23 September 2013

INFO MEDIA

BBM untuk Android dan iPhone Ditarik, Ada Apa?

Dibaca:
Komentar :
Aditya Panji/KompasTekno
BlackBerry
KOMPAS.com — Aplikasi BlackBerry Messenger (BBM) seharusnya sudah bisa digunakan oleh pengguna Android. Sebab, sebelumnya BlackBerry menjanjikan BBM akan hadir di Android dan iPhone pada akhir pekan ini.

BBM untuk iPhone sempat hadir di Apple App Store. Namun, hingga Minggu (22/9/2013) pagi, belum ada tanda-tanda kemunculan aplikasi BBM di Google Play Store.

Bukannya mengumumkan ketersediaan BBM di Android, BlackBerry justru menunda kehadiran BBM untuk Android dan menarik kembali aplikasi untuk iPhone. Kenapa?

Dalam sebuah publikasi di blog resmi BlackBerry, Minggu (22/9/2013), perusahaan mengungkap alasan tertundanya aplikasi BBM di Android. Menurut BlackBerry, akar permasalahannya berasal dari file instalasi aplikasi BBM tak resmi.

"Akibatnya, versi yang belum pernah dirilis ini menyebabkan masalah, dan kami sedang mencoba menyelesaikan masalah ini sepanjang hari," tulis Luke Reimer, Manajer Bisnis Media Sosial BlackBerry.

Beberapa jam sebelum BBM meluncur di Android dan iPhone, file instalasi BBM dengan format .apk (format aplikasi untuk Android) memang beredar di internet. Menurut Reimer, jumlah pengguna BBM bertambah menjadi 1,1 juta orang dalam waktu delapan jam. Namun, banyaknya pemakaian aplikasi BBM tak resmi menyebabkan masalah teknis bagi BlackBerry.

Tim teknis BlackBerry mengaku tetap berusaha membawa BBM di perangkat Android dan iPhone. Untuk sementara, perusahaan harus menarik kembali aplikasi BBM yang telanjur beredar, termasuk dari toko aplikasi online Apple App Store.

Kendati demikian, Reimer mengatakan, pelanggan yang sudah mengunduh BBM di iPhone tetap bisa menggunakan BBM. Aplikasi BBM untuk iPhone sempat tersedia di Apple App Store pada Sabtu (21/9/2013) sejak pukul 22.00 WIB.

Sementara itu, aplikasi BBM di Android yang masih dalam tahap uji coba atau tidak resmi akan dinonaktifkan. Pengguna Android yang telanjur mengunduh aplikasi tersebut harus mengunjungi situs web www.bbm.com untuk mendaftar dan update aplikasi BBM resmi untuk Android.

BlackBerry tidak mengungkap kapan perusahaan akan kembali merilis aplikasi BBM resmi untuk Android dan iPhone.

Reimer menegaskan, masalah yang ditimbulkan dari aplikasi BBM di Android dan iPhone ini tidak akan berdampak pada layanan BBM untuk pengguna ponsel BlackBerry.

Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin....

Kepala Sekolah Sebagai pemimpin pendidikan, di lihat dari status dan cara pengangkatan tergolong pemimpin resmi, formal leader, atau status leader. Status leader bisa meningkat menjadi functional leader. Tergantung dari prestasi dan kemampuan didalam memainkan peranannya sebagai pemimpin pendidikan sebagai sekolah yang telah diserahkan pertanggungjawaban kepadanya. Istilah kepemimpinan pendidikan mengandung dua pengertian dimana kata “pendidikan” menerangkan dalam lapangan apa dan dimana kepemimpinan itu berlangsung, dan sekaligus menjadi sifat dan ciri-ciri bagaimana yang harus dimilki pemimpin itu. Menurut Hadari Nawawi: kepemimpinan adalah kemampuan menggerakkan, memberikan motivasi dan mempengaruhi orang-orang agar bersedia melakukan tindakan-tindakan yang terarah pada pencapaian tujuan. image Kepala sekolah sebagai orang yang terpandang dilingkunag masyarakat sekolah. Ia sebagi pusat teladan bagi warga sekolah dan warga masyarakat di sekitar sekolah, karena itu ia kepala sekolah wajib melaksanakan petunjuk tentang usaha peningkatan ketahanan sekolah. Pada umumnya kepala sekolah memiliki tanggungjawab sebagi pemimpin dibidang pengajaran dan pengembangan kurikulum, administrasi personalia, administrasi personalia staf, hubungan masyarakat, “school Plant” dan perlengkapan organisasi di sekolah Kepala sekolah dapat menerima tanggungjawab tersebut namun ia belum tentu mengerti dengan jelas bagaimana ia dapat menyumbang kearah perbaikan program pengajaran. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca juga, artikel yang berhubungan dengan Artikel Kepala Sekolah Sebagai pemimpin, antara lain : Kepala Sekolah Sebagai pemimpin Kualitas Kepemimpinan Kepala Sekolah.... Baca Selengkapnya di : http://www.m-edukasi.web.id/2013/09/kepala-sekolah-sebagai-pemimpin.html Copyright www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia

Fungsi Pusat Sumber Belajar

Fungsi Pusat Sumber Belajar Secara umum fungsi-fungsi Pusat Sumber Belajar (PSB) dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan lembaga atau sekolah. Sebab yang penting dalam penerapannya adalah keefektivan setiap fungsi dalam menunjang pencapaian tujuan atau kompetensi pembelajaran. Namum demikian dalam setiap PSB ada fungsi yang utama (artinya mutlak harus dimiliki oleh setiap PSB), yaitu fungsi Pengembangan Sistem Instruksional. Adapun fungsi-fungsi lainnya adalah: fungsi pelayanan media pembelajaran, fungsi produksi, fungsi pelatihan, dan fungsi administrasi. image 1. Fungsi Pengembangan Sistem Instruksional Fungsi ini dikatakan yang utama karena aktivitas Pusat Sumber Belajar (PSB) bermuara dari fungsi ini baru menyebar kefungsi-fungsi lainnya. Fungsi pengem-bangan sistem instruksional membantu para guru, dosen dan fasilitator membuat rancangan pembelajaran untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi proses pembelajaran. 2. Fungsi Pelayanan Media Pembelajaran Fungsi ini memberikan layanan kepada guru, dosen dan fasilitator terhadap kebutuhan media pembelajaran. Mulai dari memilih media yang tepat, teknik penyajiannya, sampai kepada pemanfaatan berbagai jenis media lainnya. Sedangkan layanan kepada peserta didik berupa layanan belajar individual atau kelompok yang berbasis media, khususnya media pembelajaran audio-visual atau media elektronik lainnya. 3. Fungsi Produksi Fungsi ini berhubungan dengan pengadaan media pembelajaran yang tidak tersedia dipasaran, sehingga harus diproduksi sesuai dengan kebutuhan kurikulum yang ada. 4. Fungsi Pelatihan Fungsi ini bertanggung jawab terhadap pengembangan kemampuan SDM, baik tenaga pengajar maupun staf administrasi lainnya. Bagi tenaga pengajar berkaitan dengan peningkatan kompetensi mengajar, khususnya dalam penggunaan media dan sumber-sumber belajar lainnya, sedangakan bagi staf dalam pengeloloaan sumber belajar dan pelayanan yang baik bagi pengguna PSB. 5. Fungsi Administrasi Fungsi ini bertanggung jawab terhadap pegelolaan layanan, sumber-sumber belajar, dan pengadministrasian fungsi-fungsi lainnya. Dengan demikian sistem layanan kepada pengguna Pusat Sumber Belajar (PSB) dapat belangsung secara tertib dan lancar. Seperti dikemukakan sebelumnya, bahwa suatu Pusat Sumber Belajar (PSB) tidaklah harus memiliki semua fungsi yang ada, namun yang pasti beberapa dari fungsi tersebut. Sebab yang utama bukanlah jumlah fungsinya tetapi keefektivan setiap fungsi dalam mencapai tujuan atau kompetensi pembelajaran..... Baca Selengkapnya di : http://www.m-edukasi.web.id/2013/09/fungsi-pusat-sumber-belajar.html
Copyright www.m-edukasi.web.id Media Pendidikan Indonesia

Kekuatan Karakter Bagi Masa Depan Anak

Kekuatan Karakter Bagi Masa Depan Anak

“Orang mungkin tidak mengetahui tujuan kehidupannya, tetapi ia harus tahu cara menjalani kehidupan”

Saya melihat salah seorang siswa di lingkungan tempat tinggal saya sangat tekun belajar. Sampai-sampai, ia tidak sempat meluangkan waktu untuk bermain dengan teman sebayanya. Tuntutan sekolah yang begitu banyak membuatnya harus berlama-lama di kamar untuk mentransfer informasi yang ada di buku ke dalam otak atau memorinya. Saya sangat kasihan dengan siswa tersebut. Mengapa? Di satu sisi, siswa tersebut memang terasah kemampuan kognitifnya. Namun di sisi lain, ia mengalami ketimpangan atau kelumpuhan emosional (afektif). Hidup itu seperti naik sepeda, perlu sekali menjaga keseimbangan. Jika keseimbangan tidak terjaga maka akan jatuh.
Melihat siswa tersebut, saya sarankan pada orangtuanya untuk membantu mengatur waktu, agar ia tidak terkurung di dalam kamar, sementara kawan-kawannya asyik bermain. Yang tidak ia sadari, bahwa bermain sebenarnya juga bagian dari proses belajar.

Seperti yang kita ketahui, manusia sebenarnya memiliki daya cipta, rasa dan karsa. Karena itu, ketika hanya daya cipta (IQ) saja yang diasah, maka terjadi ketidakseimbangan. Lalu apa yang terjadi? Tentunya, efek dari pola pendidikan yang hanya menitik beratkan pada daya cipta (kognisi / IQ) saja dan mengabaikan rasa (afeksi / EQ) dan karsa (action) akan terasa dan terlihat di kala si anak tumbuh dewasa. Si anak tersebut akan lumpuh sosial. Mengapa saya katakan lumpuh sosial? Lumpuh sosial terjadi ketika si anak tidak mampu menjalin hubungan di lingkungan sosialnya. Padahal, dalam setiap pergaulan di masyarakat, baik pergaulan dalam pekerjaan, pergaulan organisasi, pergaulan di sekolah dan lain-lain pasti butuh untuk menjalin hubungan dan bekerjasama dengan sesama. Pada akhirnya bisa menghambat perkembangan potensi dirinya.
Bukankah sudah menjadi kebutuhan mendasar kita sebagai manusia untuk saling bekerjasama. Dengan bekerjasama, sebenarnya kita membuka banyak peluang untuk mempelajari banyak hal. Dengan begitu kita bisa menambah kesempatan untuk mengeksplore diri kita. Inilah letak pentingnya pergaulan dan interaksi sosial.

Dulu, orang tua memang mengarahkan anak-anaknya untuk mengasah IQ-nya. Sebab, IQ yang tinggi diartikan sebagai tingkat kecerdasan yang tinggi pula (dan konon jadi resep sukses kalo IQ tinggi). Namun, sebuah kesadaran baru akhirnya muncul bahwa ada kecerdasan lain yang juga tidak bisa diabaikan, yakni kecerdasan emosional.
Keseimbangan antara kecerdasan kognitif (pengetahuan), perasaan (afektif) dan tindakan (action) akan membangun kekuatan karakter diri yang baik. Karakter diri sangatlah penting peranannya. Sebab, karakter diri adalah cara pikir dan prilaku yang khas dari individu untuk hidup dan bekerjasama dengan sekitarnya.
Terkadang, karakter diri seseorang terasa tidak seimbang. Ada orang yang memiliki ide-ide brilian namun tidak mampu bekerjasama dengan teamworknya. Itu menunjukkan orang tersebut memiliki kecerdasan IQ yang baik sedang kecerdasan emosionalnya buruk. Ada juga orang yang memiliki otak cemerlang, dia juga baik, namun malas bekerja. Itu menunjukkan actionnya lebih lemah dibanding IQ dan EQ nya.

Karakter diri akan semakin kuat jika ketiga aspek tersebut terpenuhi. Karakter diri yang baik ini akan sangat menentukan proses pengambilan keputusan, berperilaku dan cara pikir kita. Yang pada akhirnya akan menentukan kesuksesan kita. Lihat saja, seorang Nelson Mandela meraih simpati dunia dengan ide perdamaiannya. Bunda Teresa menggetarkan dunia dengan rasa cinta dan kepedulian terhadap sesamanya. Bung Karno dengan ide, kegigihan dan kecerdasannya masih terasa bagi kita bangsa Indonesia yang telah melalui tahun millennium.
Semua itu adalah wujud dari kekuatan karakter yang mereka miliki. Ini menegaskan bahwa, karakter seseorang menentukan kesuksesan individu. Dan menurut penelitian, kesuksesan seseorang justru 80 persen ditentukan oleh kecerdasan emosinya, sedangkan kecerdasan intelegensianya mendapat porsi 20 persen.

Membangun Kekuatan Karakter

Pada diri setiap individu memiliki karakternya masing-masing. Lingkungan memiliki peran penting dalam pembentukan karakter. Karakter kita, memiliki peran penting dalam proses kehidupan. Sebab, karakter mengendalikan pikiran dan perilaku kita, yang tentu saja menentukan kesuksesan, cara kita menjalani hidup, meraih obsesi dan menyelesaikan masalah.
Sebenarnya masing-masing dari kita memiliki karakter yang khas. Dan, kekhasan karakter tersebut merupakan kekuatan karakter kita. Sebab, kekhasan atau keunikan itulah yang membedakan kita dengan individu lainnya. Si penghibur akan menebarkan semangat, si pengatur akan memanajemen organisasi. Mereka yang bijak dan tidak suka konflik bisa menjadi pendamai. Itu semua adalah kekuatan karakter. Dan, setiap karakter akan dibutuhkan dalam setiap pergaulan, baik pergaulan kerja, organisasi atau masyarakat.
Ingatlah! Kekuatan karakter harus dibangun sejak awal. Membangun kekuatan karakter bisa dilakukan melalui pendidikan karakter baik di lingkungan formal seperti sekolah, atau non-formal seperti keluarga dan masyarakat. Pendidikan karakter diberikan melalui penanaman nilai-nilai karakter. Bisa berupa pengetahuan, kesadaran atau kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Output pendidikan karakter akan terlihat pada terciptanya hubungan baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama, lingkungan, masyarakat luas dan lain-lain.

Pendidikan karakter tidak hanya diberikan secara teoritik di sekolah, namun juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu adalah bukti bahwa pendidikan yang diberikan telah merasuk dalam diri seseorang. Ketika makan bersikap sopan, ketika hendak tidur membaca doa, ketika keluar rumah berpamitan, tekun dan semangat mewujudkan obsesi dan cita-cita, jujur, berbuat baik kepada hewan dan tumbuhan, tidak membuang sampah di sembarang tempat dan lain-lain.
Membangun kekuatan karakter dilakukan dengan melibatkan seluruh elemen. Sebab, setiap elemen akan berpengaruh dalam proses pembentukan karakter individu. Seorang anak akan meniru dan mengidentifikasi apa yang ada di sekelilingnya. Role model positif akan membentuk karakter yang positif dan sebaliknya role model negatif akan membentuk keprbadian dan karakter negatif. Karena itu, setiap unsur lingkungan hendaknya dibangun secara positif, sehingga karakter anak akan terbentuk secara positif juga.

Lalu bagaimana cara membangun kekuatan karakter itu? Kekuatan karakter akan terbentuk dengan sendirinya jika ada dukungan dan dorongan dari lingkungan sekitar. Bayangkan sebuah lidi tidak akan memiliki daya untuk menghalau sampah-sampah. Namun, jika didukung oleh ratusan lidi yang lain akan membentuk satu kekuatan untuk membersihkan halaman rumah. Begitu juga dengan karakter, akan menjadi kuat ketika didukung oleh lingkungan. Peran keluarga, sekolah, masyarakat sangat dominan dalam mendukung dan membangun kekuatan karakter.
Karakter yang kuat pada akhirnya akan berperan optimal di setiap interaksi sosial. Sehingga, individu dengan karakter kuat tersebut akan memberikan sumbangsih –baik moril atau spirituil- yang berdaya guna bagi sekitarnya.

Peran Pendidikan Karakter Dalam Melengkapi Kepribadian

Peran Pendidikan Karakter Dalam Melengkapi Kepribadian

“Banyak orang tahu apa yang baik, berbicara mengenai kebaikan namun melakukan yang sebaliknya”

Pada awalnya, manusia itu lahir hanya membawa “personality” atau kepribadian. Secara umum kepribadian manusia ada 4 macam dan ada banyak sekali teori yang menggunakan istilah yang berbeda bahkan ada yang menggunakan warna, tetapi polanya tetap sama. Secara umum kepribadian ada 4, yaitu :
1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.
2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan social dan bersenang-senang.
3. Phlegmatis :  tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.
4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.
Di atas ini adalah teori yang klasik dan sekarang teori ini banyak sekali berkembang, dan masih banyak digunakan sebagai alat tes sampai pengukuran potensi manusia.

Kepribadian bukanlah karakter. Setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda. Nah dari ke 4 kepribadian tersebut, masing-masing kepribadian tersebut memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing. Misalnya tipe koleris identik dengan orang yang berbicara “kasar” dan terkadang tidak peduli, sanguin pribadi yang sering susah diajak untuk serius, phlegmatis sering kali susah diajak melangkah yang pasti dan terkesan pasif, melankolis terjebak dengan dilemma pribadi “iya” dimulut dan “tidak” dihati, serta cenderung perfectionis dalam detil kehidupan serta inilah yang terkadang membuat orang lain cukup kerepotan.
Tiap manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, kepribadian sudah hadiah dari Tuhan sang pencipta saat manusia dilahirkan. Dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya di aspek kehidupan social dan masing-masing pribadi.  Mudah ya, penjelasan ini.
Nah, karakter nya dimana? Saat tiap manusia belajar untuk mengatasi kelemahannya dan memperbaiki kelemahannya dan memunculkan kebiasaan positif yang baru maka inilah yang disebut dengan karakter. Misalnya, seorang koleris murni tetapi sangat santun dalam menyampaikan pendapat dan instruksi kepada sesamanya, seorang yang sanguin mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus. Itulah Karakter. Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya).

Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus DIBANGUN dan DIKEMBANGKAN secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu PROSES yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.
Banyak saya perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter Anda tidaklah demikian. Karakter Anda selalu merupakan hasil pilihan Anda.
Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter, lebih dari apapun dan akan menjadikan Anda seorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala sesuatu yang Anda hargai dalam kehidupan ini.
Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Anda memiliki KONTROL PENUH atas karakter Anda, artinya Anda tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter Anda yang buruk karena Anda yang bertanggung jawab penuh. Mengembangkan karakter adalah TANGGUNG JAWAB pribadi Anda.

Salam
Timothy Wibowo

Peran Pendidikan Karakter Dalam Melengkapi Kepribadian

Peran Pendidikan Karakter Dalam Melengkapi Kepribadian

“Banyak orang tahu apa yang baik, berbicara mengenai kebaikan namun melakukan yang sebaliknya”

Pada awalnya, manusia itu lahir hanya membawa “personality” atau kepribadian. Secara umum kepribadian manusia ada 4 macam dan ada banyak sekali teori yang menggunakan istilah yang berbeda bahkan ada yang menggunakan warna, tetapi polanya tetap sama. Secara umum kepribadian ada 4, yaitu :
1. Koleris : tipe ini bercirikan pribadi yang suka kemandirian, tegas, berapi-api, suka tantangan, bos atas dirinya sendiri.
2. Sanguinis : tipe ini bercirikan suka dengan hal praktis, happy dan ceria selalu, suka kejutan, suka sekali dengan kegiatan social dan bersenang-senang.
3. Phlegmatis :  tipe ini bercirikan suka bekerjasama, menghindari konflik, tidak suka perubahan mendadak, teman bicara yang enak, menyukai hal yang pasti.
4. Melankolis : tipe ini bercirikan suka dengan hal detil, menyimpan kemarahan, Perfection, suka instruksi yang jelas, kegiatan rutin sangat disukai.
Di atas ini adalah teori yang klasik dan sekarang teori ini banyak sekali berkembang, dan masih banyak digunakan sebagai alat tes sampai pengukuran potensi manusia.

Kepribadian bukanlah karakter. Setiap orang punya kepribadian yang berbeda-beda. Nah dari ke 4 kepribadian tersebut, masing-masing kepribadian tersebut memiliki kelemahan dan keunggulan masing-masing. Misalnya tipe koleris identik dengan orang yang berbicara “kasar” dan terkadang tidak peduli, sanguin pribadi yang sering susah diajak untuk serius, phlegmatis sering kali susah diajak melangkah yang pasti dan terkesan pasif, melankolis terjebak dengan dilemma pribadi “iya” dimulut dan “tidak” dihati, serta cenderung perfectionis dalam detil kehidupan serta inilah yang terkadang membuat orang lain cukup kerepotan.
Tiap manusia tidak bisa memilih kepribadiannya, kepribadian sudah hadiah dari Tuhan sang pencipta saat manusia dilahirkan. Dan setiap orang yang memiliki kepribadian pasti ada kelemahannya dan kelebihannya di aspek kehidupan social dan masing-masing pribadi.  Mudah ya, penjelasan ini.
Nah, karakter nya dimana? Saat tiap manusia belajar untuk mengatasi kelemahannya dan memperbaiki kelemahannya dan memunculkan kebiasaan positif yang baru maka inilah yang disebut dengan karakter. Misalnya, seorang koleris murni tetapi sangat santun dalam menyampaikan pendapat dan instruksi kepada sesamanya, seorang yang sanguin mampu membawa dirinya untuk bersikap serius dalam situasi yang membutuhkan ketenangan dan perhatian fokus. Itulah Karakter. Pendidikan Karakter adalah pemberian pandangan mengenai berbagai jenis nilai hidup, seperti kejujuran, kecerdasan, kepedulian dan lain-lainnya. Dan itu adalah pilihan dari masing-masing individu yang perlu dikembangkan dan perlu di bina, sejak usia dini (idealnya).

Karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus DIBANGUN dan DIKEMBANGKAN secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu PROSES yang tidak instan. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.
Banyak saya perhatikan bahwa orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkan yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain atau kondisi lainnya yang menjadikan mereka seperti sekarang ini. Memang benar bahwa dalam kehidupan, kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali kita, namun karakter Anda tidaklah demikian. Karakter Anda selalu merupakan hasil pilihan Anda.
Ketahuilah bahwa Anda mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter, upayakanlah itu. Karakter, lebih dari apapun dan akan menjadikan Anda seorang pribadi yang memiliki nilai tambah. Karakter akan melindungi segala sesuatu yang Anda hargai dalam kehidupan ini.
Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Anda memiliki KONTROL PENUH atas karakter Anda, artinya Anda tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter Anda yang buruk karena Anda yang bertanggung jawab penuh. Mengembangkan karakter adalah TANGGUNG JAWAB pribadi Anda.

Salam
Timothy Wibowo

Kamis, 19 September 2013

Sebelum Kita Ber-"Vickynisasi"...

Sebelum Kita Ber-"Vickynisasi"...

  • Penulis :
  • Dimas Wahyu
  • Selasa, 17 September 2013 | 15:05 WIB
Kata mempertakut tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. | KOMPAS.COM/DIMAS WAHYU
KOMPAS.com — Vicky Prasetyo, mantan tunangan Zaskia "Gotik", menuai perhatian luas setelah video wawancaranya dengan C&R diunggah di Youtube. Banyak yang gemas dan tidak sedikit yang menyematkan komentar "ha-ha-ha-ha" atau lebih panjang lagi dalam kolom yang disediakan di bawah sebuah berita online, di media sosial, atau di Youtube.

Namun, apa yang sebenarnya diucapkan Vicky, sebaiknya juga kita perlu tahu bukan? Lagi pula, ini bahasa kita; kita yang punya dan kita yang pakai. 

Sebelum tiap-tiap dari kita latah untuk ber-Vickynisasi, di bawah ini ada semacam paparan dari tiap-tiap kata yang dia gunakan. Uniknya, setelah banyak pihak mengolok-olok, satu di antara kata-kata Vicky ternyata benar!

Kontroversi hati
Arti kata "kontroversi" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah "perdebatan" atau "persengketaan" atau "pertentangan". Namun, kata ini biasanya muncul pada sebuah kejadian yang memang besar, misalnya hal-hal sensitif terkait suku, ras, dan agama; atau hukum yang memang menimbulkan perdebatan antara satu pihak dengan pihak lain. Oleh karena itu, penggunaannya jadi berlebihan jika "hanya" dikaitkan pada persoalan isi hati, walaupun dunia sastra tidak asing dengan kata-kata "pertentangan batin". Namun, tidak menggunakan kata "kontroversi".

"Kontroversi" pun punya sifat khusus. Yang namanya perdebatan biasanya melibatkan dua hal, walaupun itu seseorang dengan dirinya sendiri. Oleh karenanya, kata itu biasanya hadir tanpa diikuti dengan kata lain. Misalnya, "Keputusan itu pun akhirnya menimbulkan kontroversi", atau "Kontroversi mengenai peraturan itu ternyata belum tuntas", atau "Aborsi masih menimbulkan kontroversi, antara yang setuju dan yang tidak".

Tidak ada kata benda atau nomina yang langsung menempel di belakangnya kan, seperti halnya "kontroversi hati"? 


Jadi, setidaknya ada dua alasan mengapa ada rasa yang janggal dengan kata-kata itu. Pertama, kata itu digunakan untuk membicarakan hal apa, dan apakah jadinya berlebihan? Kedua, adanya kebiasaan bahwa kata "kontroversi" tidak langsung diikuti kata lain, kata benda atau nomina.

Konspirasi kemakmuran
Lagi-lagi kata yang digunakan tidak sesuai dengan pokok persoalannya. Jika kita kembali ke KBBI, "konspirasi" berarti "persekongkolan". Kata dasar "sekongkol" berarti "orang yang turut serta berkomplot melakukan kejahatan". 

Makanya, jangan heran kalau di sinetron ada potongan dialog yang misalnya berbunyi, "Jangan-jangan kamu bersekongkol dengan laki-laki itu". Ini karena kemungkinan memang ada kejahatan di sana. 

Lalu, apakah konspirasi kemakmuran (yang berarti keadaan makmur) dalam ucapan Vicky lantas berarti ada persekongkolan dalam meraih kemakmuran? 

Harmonisisasi
Kata ini muncul pada kalimat "Kita belajar harmonisisasi dari hal terkecil sampai hal terbesar..." "Harmonisisasi" tentu tidak ada. Yang ada adalah "harmonisasi" dari kata harmoni (keselarasan) yang mendapat sufiks -isasi (ada juga -asi) yang berarti proses. Jadi, untuk yang satu ini, Vicky kelebihan "-isasi".

Kita tidak boleh ego
Ego artinya aku, diri pribadi, atau rasa sadar akan diri sendiri. Yang tepat adalah "Kita tidak boleh egois", atau berarti kita tidak boleh (menjadi) orang yang selalu mementingkan diri sendiri. 

Mengkudeta (mengudeta) yang menjadi keinginan

Ini kembali lagi bicara soal di mana kata itu sepatutnya digunakan. Soalnya, "kudeta" berarti "perebutan kekuasaan (pemerintahan) dengan paksa" seperti ketika sebuah negara meminta presidennya mundur dari kekuasaan. Artinya tidak bisa diganti karena meminjam dari kata bahasa Perancis (coup d'État) yang bermakna sama. 

"Twenty nine my age ya"
Hal ini rupanya juga kerap muncul di sejumlah forum guru bahasa Inggris. Pengguna forum merasa ada yang aneh ketika anak didiknya menggunakan kata "age" pada pertanyaan "Berapa umurmu". Misalnya, "My age is 29". 

Kenapa janggal? Ini tak lain karena keberadaan "age" dan angka usia dalam kalimat bahasa Inggris akan menjadikannya berlebihan. Penyebutan "twenty nine my age ya" memang berbahasa Inggris, tetapi menggunakan struktur bahasa Indonesia (dua puluh sembilan, umur saya). Sementara itu, dalam bahasa Inggris, penyebutannya hanya "I'm 29", tidak pakai "age". 

Mempertakut
Nah kali ini ternyata Vicky tidak salah, walau kata tersebut terdengar tidak enak dan kemungkinan besar tidak lazim. Kok bisa? KBBI memasukkan kata "mempertakut" dalam pengimbuhan yang berarti "menimbulkan rasa takut pada..." atau "menakuti", atau "menjadikan lebih takut". 

Statusisasi 
Kalau yang ini lagi-lagi urusan -isasi (proses). Kata "status" berarti "keadaan atau kedudukan (orang, badan, dan sebagainya) dalam hubungan dengan masyarakat di sekelilingnya". Oleh karena itu, jika Vicky mengatakan "mempertakut statusisasi keluarga dia," maka itu tidak perlu pakai -isasi segala karena statusnya tidak butuh proses. 

Labil ekonomi
Dengan sekian usaha menyematkan logika dalam penyusunan kata-kata yang walau akhirnya amburadul ini, sepertinya pada "frasa" terakhir tersebut, Vicky salah ucap. Mungkin maksudnya "stabil". 

Yang jelas, "labil" berarti "goyah" dan dengan demikian akan sulit dimaknai jika disandingkan dengan kata "ekonomi" menjadi "goyah ekonomi". 

Sutan Takdir Alisjahbana, salah satu ahli bahasa Indonesia, menyebutkan bahwa kata-kata dalam bahasa Indonesia lazimnya menggunakan hukum diterangkan-menerangkan (DM). Misalnya, "status ekonomi", yang dalam hal ini kata "status" sebagai yang diterangkan (D), dan kata "ekonomi" adalah yang menerangkan (M). 

Contoh lainnya adalah "rumah baru", "muka bulat", dan sebagainya yang tidak mungkin menjadi MD sehingga berbunyi "baru rumah" atau "bulat muka". Oleh karenanya, "labil ekonomi" tidak menggunakan hukum kata-kata DM dalam bahasa Indonesia, kecuali jika dibalik menjadi "ekonomi labil" (ekonomi goyah).
Editor : Heru Margianto